Senin, 16 September 2013

RULA (Rapid Upper Limb Assessment)

RULA adalah sebuah metode untuk menilai postur, gaya dan gerakan suatu aktivitas kerja yang berkaitan dengan penggunaan anggota tubuh bagian atas (upper limb). Metode ini dikembangkan untuk menyelidiki resiko kelainan yang akan dialami oleh seorang pekerja dalam melakukan aktivitas kerja yang memanfaatkan anggota tubuh bagian atas (upper limb).
Metode ini  menggunakan diagram postur tubuh dan tiga tabel penilaian untuk memberikan evaluasi terhadap faktor resiko yang akan dialami oleh pekerja. Faktor-faktor resiko yang diselidiki dalam metode ini adalah yang telah dideskripsikan oleh McPhee’ sebagai faktor beban eksternal (external load factors) yang meliputi :
  • Jumlah gerakan
  • Kerja otot statis
  • Gaya
  • Postur kerja yang ditentukan oleh perlengkapan dan perabotan
  • Waktu kerja tanpa istirahat
Untuk menilai empat faktor beban eksternal pertama yang disebutkan di atas (jumlah gerakan, kerja otot statis, gaya dan postur), RULA dikembangkan untuk :
  1. Menyediakan metode penyaringan populasi kerja yang cepat, untuk penjabaran kemungkinan resiko cidera dari pekerjaan yang berkaitan dengan anggota tubuh bagian atas;
  2. Mengenali usaha otot berkaitan dengan postur kerja, penggunaan gaya dan melakukan pekerjaan statis atau repetitif, dan hal–hal yang dapat menyebabkan kelelahan otot;
  3. Memberikan hasil yang dapat digabungkan dalam penilaian ergonomi yang lebih luas meliputi faktor-faktor epidemiologi, fisik, mental, lingkungan dan organisasional; dan biasanya digunakan untuk melengkapi persyaratan penilaian dari UK Guidelines on the prevention of work-related upper limb disorder (Panduan dalam pencegahan cidera kerja yang berkaitan dengan anggota tubuh bagian atas di neg ara Inggris).
Prosedur
Prosedur dalam pengembangan metode RULA meliputi tiga tahap. Tahap pertama adalah pengembangan metode untuk merekam postur kerja, tahap kedua adalah pengembangan sistem penilaian dengan skor, dan yang ketiga adalah pengembangan dari skala tingkat tindakan yang memberikan panduan pada tingkat resiko dan kebutuhan tindakan untuk mengadakan penilaian lanjut yang lebih detail.
TAHAP 1 : Pengembangan metode untuk merekam postur kerja
Untuk menghasilkan sebuah metode kerja yang cepat untuk digunakan, tubuh dibagi dalam segmen-segmen yang membentuk dua kelompok atau grup yaitu grup A dan B. Grup A meliputi bagian lengan atas dan bawah, serta pergelangan tangan. Sementara grup B meliputi leher, punggung, dan kaki. Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh postur tubuh terekam, sehingga segala kejanggalan atau batasan postur oleh kaki, punggung atau leher yang mungkin saja mempengaruhi postur anggota tubuh bagian atas dapat tercakup dalam penilaian.
Grup A Lengan bagian Atas, lengan bagian bawah dan pergelangan tangan:
Jangkauan gerakan untuk lengan bagian atas (upper arm) dinilai dan diberi skor berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Tichauer, Chaffin, Herberts et al, Schuldt et al, dan Harms-Ringdahl & Schuldt. Skornya sebagai berikut:
  • 1 untuk ekstensi 20° dan fleksi 20°
  • 2 untuk ekstensi lebih dari 20° atau fleksi antara 20-45°;
  • 3 untuk  fleksi antara 45-90°;
  • 4 untuk  fleksi  lebih dari 90°.
Grup B Leher, punggung dan kaki :

Jangkauan postur untuk leher (neck) didasarkan pada studi yang dilakukan oleh Chaffin dan Kilbom et al. Skor dan jangkauannya sebagai berikut
  • 1 untuk fleksi 0-10°;
  • 2 untuk fleksi 10-20°;
  • 3 untuk fleksi lebih dari 20°;
  • 4 bila dalam posisi ekstensi.
TAHAP 2 : Pengembangan sistem skor untuk pengelompokan bagian tubuh.
Sebuah skor tunggal dibutuhkan dari Grup A dan B yang dapat mewakili tingkat pembebanan postur dari sistem muskuloskeletal kaitannya dengan kombinasi postur bagian tubuh. Hasil penjumlahan skor penggunaan otot (muscle) dan tenaga (force) dengan Skor Postur A menghasilkan Skor C. sedangkan penjumlahan dengan Skor Postur B menghasilkan Skor D.
TAHAP 3 : Pengembangan Grand Score dan Action List
Tahap ini bertujuan untuk menggabungkan Skor C dan Skor D menjadi suatu grand score tunggal yang dapat memberikan panduan terhadap prioritas penyelidikan / investigasi berikutnya. Tiap kemungkinan kombinasi Skor C dan Skor D telah diberikan peringkat, yang disebut grand score dari 1-7 berdasarkan estimasi resiko cidera yang berkaitan dengan pembebanan muskuloskeletal.
Berdasarkan grand score dari Tabel C, tindakan yang akan dilakukan dapat dibedakan menjadi 4 action level berikut :
  • Action Level 1: Skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur dapat diterima selama tidak dijaga atau berulang untuk waktu yang lama.
  • Action Level 2: Skor 3 atau 4 menunjukkan bahwa penyelidikan lebih jauh dibutuhkan dan mungkin saja perubahan diperlukan.
  • Action Level 3: Skor 5 atau 6 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan segera.
  • Action Level 4: Skor 7 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan sesegera mungkin (mendesak).
APLIKASI
1. Alat untuk melakukan analisis awal yang mampu menentukan seberapa jauh risiko pekerja untuk terpengaruh oleh factor-faktor penyebab cedera,yaitu:
  • Postur
  • Kontraksi otot statis
  • Gerakan repetitive
  • Gaya
2.Menentukan prioritas pekerjaan berdasarkan faktor risiko cedera. Hal ini dilakukan dengan membandingkan nilai tugas-tugas yang berbeda yang dievaluasi menggunakan RULA.
3. Menemukan tindakan yang paling efektif untuk pekerjaan yang memiliki risiko relatif tinggi. Analisis dapat menentukan kontribusi tiap faktor terhadap suatu pekerjaan secara keseluruhan dengancara melalui nilai tiap faktor risiko.
4. Menemukan sejauh mana penngaruh suatu modifikasi atas pekerjaan. Perbaikan secara kuantitatif dapat diukur dengan cara membandingkan penilaian sebelum dan sesudah modifikasi diterapkan.

Kemenangan Fatin Shidqia Simbol Kekalahan Telak Kaum Muslimah

Sebagaimana diketahui, seorang muslimah berjilbab, Fatin Shidqia Lubis dinyatakan menang oleh juri ajang pencari bakat X-Factor Indonesia pada Jum’at malam (24/5/2013) atas kemampuannya bernyanyi dengan baik. Kemenangan Fatin bagi sebagian pihak dianggap mewakili kemenangan simbol Islam. 
CyberSabili-JAKARTA–Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya menilai menangnya Fatin Shidqia Lubis dalam ajang pencari bakat X Factor merupakan lambang musibah bagi kaum Muslimah.
“Menurut saya kemenangan Fatin adalah simbol kekalahan telak kaum Muslimah.  Kaum Muslimah dengan tanda kutip di “paksa”  tampil di panggung jadi penghibur para biduanita lainnya,” kata Harits kepada kiblat.net, Sabtu (25/5/2013) Jakarta.
Ajang tersebut menurut Harits, merupakan bagian dari pertarungan budaya yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Antara budaya Islam dengan budaya Barat yang sekularistik dan liberal. “Sebuah perang budaya dan kaum muslimah menjadi boneka mainan,”ucapnya.
“Apa yang terjadi sebenarnya dalam konteks perang budaya yang membius dan membuat umat Islam dan kaum Muslimah khususnya melupakan akar serta jati diri sebagai muslim,” tambah Harits.
Di sisi lain memang, kata Harits, tiap kemenangan sosok muslim dalam sebuah kompetisi itu disambut rasa senang dan bangga sebagai muslim, ini  masih bisa dimaknai perasaan Islam meski tidak pada tempatnya.
“Sebuah bangga dan senang jika orang Islam menang apalagi dengan simbol Islam,” pungkasnya.
Umat ini, kata Harits, sesungguhnya merindukan kemenangan di semua sektor kehidupan, menjadikan Islam dan umatnya yang menyatu dengan dien-nya ya’lu wala yu’la alaih (agamanya tinggi dan tidak ada yang melebihi tingginya).
Sebagaimana diketahui, seorang muslimah berjilbab, Fatin Shidqia Lubis dinyatakan menang oleh juri ajang pencari bakat X-Factor Indonesia pada Jum’at malam (24/5/2013) atas kemampuannya bernyanyi dengan baik. Kemenangan Fatin bagi sebagian pihak dianggap mewakili kemenangan simbol Islam. (qathrunnada/kiblat.net)
See more at: http://www.sabili.co.id/berita/tajuk/item/721-kemenangan-fatin-shidqia-simbol-kekalahan-telak-kaum-muslimah.html#sthash.xJe9Fajw.dpuf