JAKARTA – Hati-hati memilih teman di situs jejaring pertemanan
Facebook. Salah gaul dengan kenalan baru bisa berakibat fatal. Salah
satunya, diciduk Detasemen Khusus 88 Polri dan dicap sebagai teroris.
Inilah yang dialami tiga terduga teroris yang ditangkap di Jakarta,
Sabtu (28/10). Yakni, David Ashari, Herman Setyono, dan Sunarto Sofyan.
Keluarga mereka mengaku ketiganya dijebak oleh seseorang bernama Basir
yang dikenal melalui Facebook.
’’Dua anak saya mengenal Basir dari Facebook sekitar enam bulan yang
lalu,’’ urai Maryam, ibu David dan Herman, dua kakak-beradik yang
dibekuk di Palmerah Barat. Maryam kemarin meminta bantuan tim pengacara
muslim pimpinan Achmad Michdan SH di kantornya, jalan Pinang 1, Pondok
Labu, Jakarta Selatan.
Menurut wanita yang kemarin mengenakan jilbab merah muda itu, dua
anaknya tak pernah pergi lama dari rumah. ’’Aktivitas keagamaannya ya di
masjid sekitar rumah saja,’’ bebernya. Mereka memang dikenal taat
beribadah dan rajin salat lima waktu di masjid.
Ia menjelaskan, sosok yang bernama Basir dikenalkan oleh anaknya
sebagai orang dari Jawa Timur. ’’David bilang dia kenalan di Facebook,
mau cari kerja di Jakarta. Itu sekitar empat bulan yang lalu,’’ ucapnya.
Nah, dua hari sebelum dua anaknya ditangkap, si Basir ini ikut
menginap di Palmerah. ’’Karena anaknya baik, ya saya tidak curiga. Tidak
ada yang aneh,’’ kata ibu yang ditinggal mati suaminya sejak 2005 itu.
Rupanya, Basir ini membawa petaka. Sebab, dia ikut diciduk Densus 88
Polri. ’’Tapi, anehnya Basir ini tidak pernah disebutkan oleh Polri.
Mereka hanya menyebut menangkap David dan Herman di Palmerah,’’ jelas
pengacara Maryam, Achmad Michdan.
Kecurigaan bertambah karena terduga lainnya, Sunarto Sofyan juga
mengenal Basir melalui facebook. Hal itu disampaikan kakak kembarnya
Sunardi Sofyan yang kemarin ikut dalam jumpa pers. ’’Saya sempat
bersalaman dengan Basir ini. Dikenalkan oleh Sunarto bahwa dia temannya
dari Facebook,’’ urainya.
Sosok Basir digambarkan oleh Sunardi sebagai seorang bertinggi badan
sedang, agak berkuliyt hitam dengan rambut cepak. ’’Sosoknya biasa saja,
yaw ajar,’’ katanya. Basir, David, Herman, dan Sunarto rupanya juga
saling berteman semua di facebook. ’’Dari keterangan adik saya, mereka
memang berhubungan terus melalui Facebook,’’ bilangnya.
Saat tahu ada penangkapan David dan Herman di Palmerah, Sunarto
sempat kaget. Tahu bahwa teman facebooknya dibekuk polisi, dia sempat
titip pesan pada kakak kembarnya. ’’Dia bilang, kalau saya ikut
ditangkap . Tolong jelaskan ke keluarga bahwa saya tak terlibat
apa-apa,’’ katanya.
Rupanya, firasatnya benar. "Saya keluar Gang Kebun Kacang 14 menuju
Kebun Kacang 9 itu mau bagikan daging kurban untuk abang saya yang
nunggu di mobil, terus adik saya (Sunarto) ditangkap. Saya minta surat
penangkapannya tidak dikasih tapi mereka bilang resmi,"katanya.
Ia melanjutkan bahwa tanpa didampingi RT/RW setempat tim gegana
dengan seenaknya menggeledah rumah. "Tim gegana itu masuk sendiri, tidak
ada pendamping dari RT. Atau RW. Dari pihak keluarga saya protes. Tapi
ketika diperiksa sampai ke belakang Alhamdulillah tidak ada apa-apa,"
ujar kakak Sunarto yang lahir selisih 15 menit lebih awal itu.
Nandi, panggilan Sunardi, membantah ada ditemukan benda berbahaya
ataupun bahan pembuat bom di dalam tas ransel milik Nanto yang berada di
rumahnya. "Gegana masuk ke kamar ibu saya, disitu ada tasnya Nanto
(Sunarto), tim Gegana minta supaya disuruh buka tas itu. Isinya cuma
laptop, charger sama obat asamanya si Nanto. Terus tas itu di bawa ke
depan pintu. Jadi tidak ada bom sama sekali," katanya.
Sehari-hari Sunarto bekerja sebagai staf jasa pengiriman barang
ekspedisi di Tanah Abang. "Kami memang aktif sebagai takmir masjid
Baiutul Karim Pondok Kacang, tapi terbuka untuk umum, semua golongan
silahkan beraktivitas di masjid itu," katanya.
Basir yang sempat ditemui Sunardi di rumahnya juga menghilang.
Belakangan dia baru tahu bahwa Basir ikut diciduk di rumah Herman dan
David di Palmerah Barat. "Keluarga berharap bisa menemui adik saya. Dia
menderita sakit asma," kata Sunardi yang matanya terus berkaca-kaca
sepanjang jumpa pers itu.
Lantas apa akun facebook Sunarto ? Menurut Nandi, akunnya bernama
"Wajib Bermanhaj Salaf". "Isinya memang seputar agama Islam, dakwah.
Adik saya juga jualan buku buku agama," katanya.
Tadi malam , akun itu masih bisa dibuka. Namun, keterangan
lokasinya di Dumai, Riau. Akun itiu mempunyai 1.109 teman dan aktif
mengisi timeline-nya dengan kutipan ayat-ayat Al Qur"an.
Informasi yang dihimpun koran ini, selain akun Wajib Bermanhaj Salaf
milik Sunarto, ada beberapa akun facebook para terduga teroris yang lain
. Diantaranya Herman Al Irhaby, New Cat Tembok , Litvinenko Al
Ghifary, Abu Dzulfikar Aljawy dan Kalasnikov Aljawy.
Akun-akun itu diduga sudah tidak lagi dalam pengendalian pemilik
aslinya karena terlah dibekuk Densus 88. "Polisi harus membuka siapa
teman facebook si Basir ini. Apakah dia intel ? Atau agen susupan pihak
ketiga untuk menjelekkan anak-anak muda yang semangat belajar agama,"
kata Achmad Michdan.
Selama ini, lanjut pengacara Abu Bakar Baasyir ini, penanganan kasus
terorisme tak pernah transparan. "Bahkan, para tersangka itu tak bisa
bebas memilih pengacara. Ini ada apa ? Kenapa ditutup-tutupi,"katanya.
Dia mengultimatum, paling lambat Sabtu depan, status ketiga orang itu
jelas. "Keluarganya yakin mereka tak terlibat. Kalau memang tak
bersalah harus dibebaskan dan direhabilitasi nama baiknya," katanya.
Secara terpisah, Mabes Polri menerima complain dari pengacara TPM.
"Beri kami waktu 7 x 24 jam ," kata Kabiro Penerangan Masyarakat Mabes
Polri Brigjen Boy Rafli Amar di kantornya kemarin.
Sesuai UU Terorisme Densus 88 berhak memeriksa terduga teroris selama
7 x 24 jam. "Jika memang tidak terkait tentu akan dilepaskan," kata
mantan Kapoltabes Padang ini.
Soal kenalan di facebook, Boy berjanji akan menyelidiki lebih lanjut.
"Nanti kami komunikasikan dengan penyidiknya," kata jenderal bintang
satu itu.
Kemarin, Boy juga menerima kunjungan DPP hasmi (Harakah Suniyah Untuk
Masyarakat Islami) yang dipimpin Dr Muhammad Sarbini. Setelah dialog,
Boy berkesimpulan DPP Hasmi di Bogor ini sama sekali tidak ada kaitan
dengan Hasmi teroris yang dibekuk itu.
"Kami berterimakasih atas kunjungannya. Ini memang ada kemiripan
singkatan, tapi berbeda," kata Boy. Ketua DPP Hasmi Muhammad Sarbini
mengaku bisa menerima klarifikasi Polri. "Terus terang anggota kami
resah karena masyarakat awam menyamakan Hasmi teroris dengan Hasmi kami
yang anti kekerasan," katanya. (jpnn/p2/c3/ary)
sumber: sabili.co.id
sumber: sabili.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar